Aliran sejumlah sungai  di kawasan umpungeng yang tidak pernah kering dan bermuara pada satu aliran sungai yang debit airnya cukup deras dan terjaga sepanjang tahun merupakan anugrah kekayaan alam yang patut disyukuri. Dengan ketersediaan sumber air yang melimpah memungkinkan kami untuk memperoleh sumber energy terbarukan yang sangat melimpah terutama sumber daya listrik. Dengan ketersediaan listrik yang cukup, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi untuk kesejahtraan masyarakat. Produksi gula areng yang selama ini mengandalkan kayu bakar sebagai bahan bakar utama  dapat beralih ke energi listrik yang berarti meringankan beban pekerjaan para penrajin gula areng, mengurangi tindakan destruktif masyarakat terhadap aksi pembalakan kayu di sekitar kawasan, dan yang terpenting adalah dapat mempersatukan petani dalam mengolah nira mereka untuk menjadi  gula areng yang sangat dinanti oleh para konsumen makanan sehat dari penjuru dunia.
Disamping dampak positif diatas, energi listrik dapat meningkatkan industri rumah tangga masyarakat umpungeng terutama kaum ibu yang selama ini memang dikenal memiliki keterampilan-keterampilan khusus namun kurang produktif akibat dari minimnya peralatan plus proses yang serba tradisional.   

Letak desa Umpungeng yang berada pada ketinggian 1000 m diatas permukaan laut dan terletak +-50 km sebelah barat Kota Watang soppeng berbatasan dengan Kab.Barru sebelah barat dan Kab.Bone di sebelah Selatan. Wilayah yang beradah dilereng Gunung Poso ini merupakan daerah dengan curah hujan paling tinggi diantara wilayah lain di kabupaten Soppeng yang  secara geografis terbagi 3 Kampung yang dibatasi oleh masing-masing sungai  yakni antara Sungai Lebba-e dengan Sungai Lasaurung terdapat Kampung Bulu batu dan antara Sungai Ladengeng dengan sungai Yawangpulo terdapat Kampung Umpungeng satu dan Umpungeng dua. Aliran sungai-sungai tersebut bermuara ke sungai Langkemme yang selama ini merupakan pengsuplay utama irigasi kawasan kec. Mario Riwawo,Lajjoa,  Cabenge dan Sekitarnya.
Explorasi sumber daya alam takterkendali dan tanpa perhitungan yang dilakukan oleh masyarakat terdidik atapun non terdidik telah terjadi dimana-mana. Akibatnya terjadi kerusakan alam yang luar biasa dasyat. Banjir,lonsor, kekeringan terjadi secara luas hampir disetiap wilayah di Indonesia.

Wilayah yang untuk sementara waktu dianggap cukup aman, pun tidak luput dari ancaman yang sama, hanya menunggu waktu saja. Asumsi ini didasarkan pada budaya masyarakat yang kurang peka dan peduli pada kelestarian alam dan lingkungan. Begitu banyak daerah yang sampai saat ini masih terus dieksplorasi oleh masyarakat tanpa kendali dengan alasan tuntutan hidup tanpa upaya reboisasi kembali. Sebagian lagi melakukan eksplorasi tanpa rasa tanggung jawab dengan alasan tanah adat/warisan. Jika hal tersebut dibiarkan terus terjadi, Lantas bagaimana nasib negri ini pada generasi sesudah kita?