Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Sudirman Minggu, 15 Mei 2011 | 23:56 WIB
Assalamu alaikum'
Mohon penjelasan kenapa Rambut Arung Palakka (Petta malampe e gemme'na) tersimpan di Saoraja palakka di umpungeng. Adakah hubungan sejarah dengan Umpungeng? Kami mohon bantuan penjelasan jika sdr mengenal sejarah Arung Umpungeng. Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih. Wassalam


Muhammad Yusuf Tonggi Senin, 12 November 2012 | 00:55 WIB
Jawawaban Buat Sudirman.
Rambut Arung Palakka yang tersimpan di Soraja Palakka yang di dekat Jolle (tidak jauh dari Umpungeng) itu adalah Arung Palakka yang nama Pangurusengnya "Lapattikeng Arung Palakka" suami dari Patanra Wanua. Arung Palakka yang ini dimakamkan di Palakka yang di Palakka yang disitu juga (banyak tempat yang namanya Palakka). Meskipun Patanra Wanua disebut dalam Lontara' Panguriseng Bone bersaudara satu ibu satu ayah dengan Laumasa' Mula Panre BessiE Arung Mangkau' Bone 1358-1424, namun yang saya tahu mereka satu Ayah namun lain Ibu. Itu makanya Putranyalah Patanra Wanua yang kemudian diangkat sebagai Arung Mangkau' Bone berikutnya oleh Laumasa' Mula Panre BessiE, dan ini urusannya soal tingkatan darah (Ra-RaE Karampelung Lasaliu 14241496).
Ibu Lumasa Mula Panre BessiE itu orang biasa, sementara ibu Pantanra Wanua Manu' Arungnge Ri Toro' (bukan Manurung). Dalam Riwayat Mangkau' Bone, justru Istri Laumasa Mula Panre bessiE yang dikatakan sebagai orang biasa.
Tokoh Besar Yang Padam di Anak Negeri Perbatasan
Sekapur sirih

Kadang saya bertanya dalam hati, apa yang membanggakan bagi Belawa dimasa lalu sehingga konon kerap dikunjungi banyak Raja-Raja Besar dari seluruh penjuru TellumpoccoE (Bone, Wajo dan Soppeng) ?. Mereka datang bukan sekedar berkunjung, melainkan berziarah pada beberapa komplek pemakaman yang sesungguhnya nampak amat bersahaja. Maka jelaslah jika makam yang diziarahi itu adalah tempat bersemayamnya seorang tokoh besar yang  kerap kupertanyakan, yakni : La Pallawagau’.

Berawal dari interest Bp. Bakhtiar D. Lamallolongeng, seorang kerabatku yang amat saya hormati terhadap sosok ketokohan La Pallawagau’, sehingga sekilas pengenalanku tentang Baginda inilah, terwujud dalam sebuah uraian sederhana pada laman blog kita bersama ini. Sebuah tulisan yang tidak lebih sekedar “carita ri yaccaritang”. Bukanlah sesuatu yang dapat dijadikan sebagai suatu bahan kajian karena sumber reverensinya lebih banyak berupa suntingan pengalaman pribadi dari mendengar dan mendengar, serta sedikit membaca yang diselingi dengan sedikit berpikir dalam proses perangkaiannya sebagai suatu tulisan sebagaimana adanya ini.

Kongsep Georafis, menurut tinjauan Sang Pakar

Iya pakarajai wanuaE
REkkuwa engka tasi' akkajang
Padang malowan allowangrumang
Pasa'marowa abbalureng

Adapun yang membesarkan negeri
Karena adanya laut tempat berlayar (melaut danmencari ikan)
Lahan yang luas tempat bercocok tanam
Pasar yang ramai tempat perniagaan

Ungkapan yang kiranya merupakan konsep geografis yang menggambarkan wawasan berkehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat sehingga menjadikan perbedaan warna kehidupan yang  menekankan  perbedaan aksentuasinya masing-masing. Bahwa pada baris bait ungkapan sejarah tersebut diatas adalah penggambaran jelas mengenai corak kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dan barat sejak dahulu kala, yakni : Pelaut, petani dan peniaga.

Puatta MalampE'E Gemme'na
Tokoh Sejarah atau ..Dukun ?

PENDAHULUAN
Nama lengkapnya : La Tenri Tatta DaEng SErang To Unru Arung Palakka Petta MalampE'E Gemme'na Datu Mario ri Wawo Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Tungke'na Tana Ugi Mangkau' ri Bone -XV Petta MatinroE ri Bontoala'. Kemudian VoC Belanda menggelarinya pula ; De Koningh der Bougies alias Raja Bugis.

Keterangan Gambar :
Patung replika "Arung Palakka" dengan latar belakang potret ANDI MAPPANYUKKI SULTAN IBRAHIM DATU SUPPA MANGKAU RI BONE  (Koleksi dalam perawatan PENULIS)